SELAMAT DATANG DI WEBLOG MAHASUTRA (Mahasiswa Universitas Terbuka)

Rabu, 30 Juni 2010

MEMBUDAYAKAN GURU UNTUK MENULIS `MENULIS ITU GAMPANG`

Oleh Wiwi Parluki
agupeKetika mengunjungi perpustakaan daerah di kabupaten, seorang guru SMP membaca suatu buku berjudul `menulis itu gampang` karangan Arswendo Atmowiloto, langsung terkesiap darahnya dan segera membacanya dengan penuh rasa ingin tahu, ah masa, apa benar?

Gambaran situasi tadi adalah suatu contoh bahwa seorang guru tidak mempercayai suatu anggapan `menulis itu gampang` dan dalam dirinya bisa saja ada keinginan untuk menggulirkan apa yang dialaminya sebagai tenaga pendidik, keinginan untuk berbagi dengan rekan guru khususnya, namun merasa kesulitan dalam menulis atau menemui kendala dengan belum ada rasa percaya diri untuk menulis.

`Menulis menjadi suatu keterampilan`, bagi seorang yang belum mencobanya rasanya terlalu mustahil. Padahal disisi lain, berdasar UU no 20 tahun 2005 tentang guru dan Dosen dalam pasal 20, Dalam melaksanakan tugas keprofesionalanya, guru berkewajiban merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Bagian terakhir yaitu mengevaluasi hasil pembelajaran adalah kegiatan mengevaluasi produk atau karya kita yang perlu diuji demi tercapainya tujuan pendidikan nasional. Pembuktian keprofesional kita teruji melalui hasil pembelajaran kita dengan menuliskan apa yang telah kita laksanakan kemudian di sampaikan ke forum umum untuk mendapat pengakuan. Tulisan tersebut, disebut karya tulis ilmiah yang merupakan bentuk dari pengembangan profesi. Sayang diantara kita sebagai pendidik, masih banyak yang belum melaksanakan. Guru masih terbatas hanya menulis laporan evaluasi pembelajaran melalui lembar perbaikan dan pengayaan. Hal ini yang mendukung mustahilnya guru untuk menulis sebuah karya tulis.

Benarkah menulis sulit di kalangan guru? Jawabanya tentu beragam. Tetapi kenyataan kita temui masih sedikit karya/tulisan guru menghiasi media massa atau jurnal. Kepengurusan kenaikan pangkat guru melalui pengembangan profesi ini masih menjadi keprihatinan, masih banyak guru yang mentok pada golongan IVa hingga memasuki masa pensiun. Padahal menurut kabar yang disampaikan widyaiswara dalam Workshop Guru Pemandu MGMP di LPMP Jawa Tengah pada tanggal 13-16 Agustus 2008 akan ada peraturan baru tentang kenaikan pangkat melalui angka kredit . Guru golongan III/b diwajibkan membuat karya pengembangan profesi minimal 2 untuk bisa naik ke pangkat ke golongan III/c. Dari golongan III/c ke III/d minimal 4 angka kredit pengembangan profesi. Golongan III/d ke IV /a =6, golongan IV/a ke IV /b = 8, golongan IV/b ke IV/c = 10, golongan IV/c ke IV/d = 12 dan golongan IV/d ke IV/e = 14. Jika peraturan ini betul-betul diterapkan, maka menulis karya tulis merupakan keharusan. Menulis karya tulis sendiri adalah sebuah upaya pengembangan profesi diri guru dalam mengekpresi diri.

Menulis karya tulis juga sebenarnya hak kita sebagai tenaga guru yang profesional, hal ini diamahkan dalam UU no 20 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dalam pasal 14, ayat (1) Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan guru berhak:

k. Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya. Sekali lagi menulis, ternyata merupakan hak kita sebagai guru.

Dari dari kewajiban dan hak kita, lengkap sudah alasan perlunya menulis, namun kurangnya tulisan karya guru ini didasari oleh beberapa kendala diantaranya; kurangnya motivasi di kalangan guru untuk menulis, kurangnya keberanian guru untuk menulis dan belum memanfaatkan atau belum mengoptimalkan media yang tersedia.

KENDALA AND SOLUSINYA
Kendala-kendala yang dihadapi guru dijelaskan lebih rinci sebagai berikut:

1. motivasi yang rendah di kalangan guru.

Tidak sedikit rekan guru yang telah memiliki atau mengantongi masa kerja yang demikian lama atau guru senior yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas, enggan untuk menulis. Andreas Harefa, pengarang buku the best seller, dalam bukunya `Agar Menulis–Mengarang bisa gampang` memberikan semacam motivasi kepada siapa saja yang mau belajar menulis dimana banyak orang beranggapan (juga dirinya pada awalnya sebelum terjun `menulis` beranggapan `menulis adalah sulit`) yang mengakibatkan kurangnya motivasi.

B. kurangnya keberanian guru untuk menulis.
Kondisi guru dimana guru tidak memiliki keberanian telah dicontohkan pada bagian awal tulisan ini. Kondisi ini benar-benar terjadi manakala guru merasa sedikit pengetahuan dan pengalamanya atau terbatas idenya dibandingkan dengan pembaca atau sebelum menulis, guru sudah merasa minder sebelum menulis. Padahal sebenarnya guru memiliki segudang ide untuk ditulis mulai dari buku/bahan ajar, metode/strategi pembelajaran, peserta didik dan perkembanganya yang unik dan sebagainya. Hal lain yang menjadi pemicu kurangnya keberanian menulis adalah adanya kesalah pahaman akan suatu pengertian bahwa guru dituntut memiliki `loyalitas yang tinggi yaitu taat pada atasan atau pimpinan, sehingga takut mengungkapkan gagasan yang mungkin dianggapnya menyimpang dari kebijaksanaan atasan. Kondisi dimana pandangan guru yang loyal adalah guru yang mentaati semua kemauan dan perintah atasan ini turut mempertajam kondisi guru kurang berani mengemukakan pendapat atau gagasannya atau menujukkan otoritas pribadinya melainkan cenderung mengikuti alur berpikir atasannya. Hal ini keliru, semestinya Loyalitas guru ditujukan kepada Negara sesuai dengan aturan perundangan.

C. belum mengoptimalkan media yang tersedia

Perkembangan dunia pendidikan dewasa ini demikian pesatnya, sekolah-sekolah sekarang ini sudah memiliki fasilitas yang lengkap mulai dari ruang kelas, alat peraga, fasilitas perpustakaan, bahkan lebih canggih lagi adanya fasilitas Teknologi Informatika dengan internet dan hot spot-nya. Namun sayang kelengkapan fasilitas tadi sering belum dapat dimanfaatkan sebagai referensi atau pendukung upaya menulis. Ada ungkapan`penulis yang baik berawal dari pembaca yang baik`. Kita dapat memanfaatkan perpustakaan sekolah atau bahkan memanfaatkan perpustakaan pribadi sebagai referensi. Andaipun perpustakaan sekolah kurang bahan refernsi, guru bisa mengunjungi perpustakaan yang ada di kota kecamatan atau kabupaten. Jikapun masih sulit, guru bisa berselancar melalui internet. Dunia internet saat ini demikian mudah diakses pun melalui warnet yang begitu menjamurnya di masyarakat dewasa ini.

Guru dituntut kritis menghadapi kendala-kendala tersebut. Sebab apabila tidak mengantisipasi, tak pelak dunia pendidikan akan semakin pudar, sementara di sisi lain dituntut meningkatkan kualitas pembelajarannya. Terlebih-lebih guru sedang mendapat perhatian dari pemerintah dengan tunjangan profesi. Maka ironis jika guru berdiam diri dan menjadi guru hanya sekedar melaksanakan kewajiban, sampai menjelang akhir purna tugas.

Kendala-kendala tersebut perlu diatasi dengan adanya program `Kreatifitas bersama` diantaranya;

1. membentuk kelompok-kelompok diskusi mata pelajaran serumpun melalui MGMP lokal di sekolahnya atau mengoptimalkan kelompok guru mata pelajaran dalam MGMP yangg telah terbentuk. Misalnya kelompok guru pengampu mata pelajaran atau MGMP Bahasa Ingdonesia. MGMP Bahasa Inggris, MGMP IPA, MGMP matematika dan sebagainya.

2. Menentukan kesepakatan proyek bersama.
Kesepakatan jenis proyek yang dimaksud aladah dengan menentukan kelompok latihan menulis berdasar jenis tulisan, misalnya tulisan bebas seperti artikle, opini, celoteh guru atau kelompok menulis karya tulis ilmiah berupa Penelitian Tindakan Kelas, kelompok Lesson Study.

3. Menentukan kesepakan waktu menulis.
Budaya mengoptimalkan waktu pada jam-jam dinas di sekolah perlu diterapkan dengan penuh kesadaran. Jam-jam dimana telah selesai mengajar dapat dimanfaatkan untuk mencicil proyek menulis, sebab ada guru yang menganggap setelah selesai mengajar berarti dapat pulang ke rumah meski belum selesai jam dinas. Perlu kesepakatan yang dipatuhi bersama, kapan bisa meninggalkan sekolah, dengan tetap berkreatifitas

4. Mencari pembimbing ahli untuk mengevaluasi tulisan yang dibuat.
Pembimbing bisa menggunakan tutor sebaya jika ada rekan guru yang dianggap mampu terbukti dengan prestasinya, atau kepala sekolah jika mampu, bisa juga mengadakan kerjasama dengan perguruan tinggi di kotanya yang memiliki kredibilitas baik. Jika demikian pun sulit, sekolah dapat menyampaikan usuilan kepada kartor dinas ranting atau kantor dinas pendidikan kabupaten untuk membantu menfasilitasi bimbingan bagi guru yang ingin mengasah kemampuan dalam menulis. Karena masyarakat juga memikul tanggung jawab pendidikan, maka dapat juga melibatkan komite atau orang tua murid jika ada yang mampu mengemban tugas tersebut.

5. Jika suatu karya tulis telah dihasilkan, tentu saja perlu dipajang agar karya tersebut dapat dinikmati orang lain atau bermanfaat.
Media yang paling sederhana bisa dengan Majalah Dinding Khusus Guru dimana bisa dibaca semua komunitas sekolah. Buletin sekolah pun bisa mulai disusun untuk mewadahi guru menulis. Jika sekolah sudah dilengkapi fasilitas ICT tentulah dapat ditampilkan dalam Blog Sekolah. Media- media tersebut penting ketersediaanya, sepanjang memiliki fungsi dan manfaat sebagai berikut:
- Media yang berfungsi sebagai media komunikasi, informasi dan wadah kreatifitas guru yaitu sebagai media untuk saling bertukar pengalaman dan sebagai wadah untuk menyampaikan gagasan, pendapat dan tempat display hasil karya guru.
- Media itu memiliki manfaat:
☻melatih keberaninan menuangkan pendapat
☻melatih ketelitian, kesabaran, dan ketekunan.
☻melatih kemampuan berorganisasi
☻menambah ilmu, pengalaman dan wawasan
☻meningkatkan daya kreatif dan inovatif
☻sebagai pijakan awal bagi yg ingin menjadi guru yang terampil menulis

6. Pemberian Reward atau penghargaan bagi guru yang aktif
Indikator guru aktif menulis ditentukan berdasar kesepakatan bersama. Disamping reward tentu saja harus dibimbing guru-guru yang tergolong tidak aktif, atau perlu dicari alasan mengapa tidak aktif. Perlu dikaji dan dicarikan solusi agar semua guru dapat mengemukakan kreatifitasnya

Kesimpulan
- Ditinjau dari kewajiban, hak guru dengan segala konsekwensinya, menulis memanglah harus dilakukan oleh guru
- Kendala – kendalan yang dihadapi guru sangat beragam, dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu kurangnya motivasi di kalangan guru untuk menulis, kurangnya keberanian guru untuk menulis dan belum memanfaatkan atau belum mengoptimalkan media yang tersedia di sekolah
- Upaya mengatasi kendala diantanya:melalui `program kreatifitas bersama` yang meliputi: membentuk kelompok-kelompok diskusi mata pelajaran serumpun melalui MGMP lokal di sekolahnya atau mengoptimalkn kelompok-kelompok tersebut, menentukan kesepakatan proyek bersama, menentukan kesepakan waktu menulis, mencari pembimbing ahli untuk mengevaluasi tulisan yang dibuat, menentukan media untuk memajang hasil karya, dan pemberian reward atau pembimbingan khusus .

Semua kegiatan di atas diupayakan agar terbentuk iklim budaya menulis. Jika kegiatan menulis sudah rutin dilakukan tentulah akan muncul budaya, dengan demikian menulis tidaklah dianggap sulit. Menulis itu gampang seperti apa yang ditulis oleh Arswendo Atmowiloto dalam bukunya `Mengarang itu gampang`. Maka mari mulai menulis jangan menunggu golongan IV/a, jangan menunggu dua hari lagi. Mulai sekarang juga, setelah membaca artikel ini. Majulah pendidikan di Indonesia.

Dra Wiwi Parluki, M.Pd adalah guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SMP Negeri 9 Purwokerto, Banyumas dan Pengurus Agupena Cabang Banyumas.

Daftar Pustaka:
Atmowiloto, Arswendo.2003.Mengarang Itu Gampang.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Tama
Harefa, Andreas.2002.Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Tama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut